Menjemput Jodoh Menunda Kebahagiaan

Menjemput Jodoh Menunda Kebahagiaan

Kita tak pernah tahu nasib kita di masa depan. Tapi, kita bisa ikhtiar untuk menjadikan masa depan lebih indah dan membahagiakan. Kita tak pernah tahu usia kita sampai di angka berapa, tapi kita bisa memilih untuk memperbaiki kualitas umur kita. Kita juga tak bisa memilih dengan siapa kita akan berjodoh, tapi kita bisa ikhtiar dengan cara terbaik untuk menemukan jodoh yang dirindukan.

Jodoh sudah ada dan tak akan lari kemana. Perkataan itu sudah sering kita dengar dari orang tua dulu. Jadi jangan ngoyo dan khawatir dengan jodoh. Hadirkan kekhawatiran kita, untuk sesuatu yang lebih penting. Yakni, jodoh kita adalah orang yang sekufu, istilah kekinian selevel, istilah wong tua, sesuai dengan bibit bobot kita sendiri. Artinya, ketika kita menginginkan jodoh yang baik, maka sejak saat ini, sejak dulu, kita harus sudah menyiapkan diri untuk bisa lebih baik. Pantas untuk berjodoh dengan orang baik.

Jodoh sudah ada yang mengatur, tapi bukan berarti kita hanya boleh duduk manis menunggu kedatangannya. Hanya menghitung hari dan menambah daftar nama yang kelak akan menjadi tamu undangan di pesta pernikahan kita. Jodoh sudah ada, tapi kita diberi kesempatan untuk menjemputnya. Jodoh sudah ada, tapi selama janur kuning belum “melengkung” maka jodoh yang kita harapkan bisa berubah berganti jodoh orang lain. Orang yang selama ini kita anggap akan menjadi jodoh kita, bisa jadi kelak justru dia adalah orang yang menjadi tukang kipas di samping pelaminan kita. Bisa jadi juga, kita yang menjadi pembawa bingkisan untuk pesta pernikahannya. Jodoh sudah ada, tapi belum nampak di depan mata.

Menjemput jodoh bukan dengan mengoleksi orang-orang yang kita cintai. Atau menyibukan diri untuk mengejar orang-orang yang dikira jjodoh dengan kita. Tidak, kita harus ikhtiar menjemput jodoh dengan cara terbaik, diridloi Allah, mengundang keberkahan dan menjaga benih-beih kebahagiaan.  Yup, kita harus menjaga benih kebahagiaan kita.

Ketika memilih untuk berpacaran, saat itu kita sedang menebar virus-virus perusak. Persis seperti orang yang mengharapkan suburnya pohon, namun tak sabar memangkas dan mengambil pucuk-pucuk daun. Pacaran itu ibarat hutang kebahagiaan. Kebahagiaan yang harunya kita nikmati ketika sudah menikah, dinikmati ketika pacaran. Jangan heran, jika orang yang lama pacaran, tapi sulit mempertahankan hubungan pernikahan.

Memilih untuk tidak pacaran adalah sebuah pilihan bijak. Menunda kebahagiaan yang bisa kita nikmati saat ini. Hura-hura, bersenang-senang, jalan-jalan, sungguh sesuatu yang membahagiakan. Tapi, semua itu jauh dari kebaikan. Karena setiap tetes keringat, gelak tawa, senyuman, sentuhan, bahkan hanya sapaan, bisa jadi adalah bulir-bulir dosa yang justru kelak menjadi beban masa depan. Jadi, buatmu yang masih jomblo, teruslah bertahan untuk menunda kebahagiaan. Yakinlah, kebahagiaan setelah pernikahan, lebih indah dan menentramkan.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

IBX5999A9550F6D1